Sistem Kekerabatan Masyarakat Makassar
"MEMANG SIBIJAKI MINGKA TENA KISINGKAMMA"
Pernah mendengar ungkapan orang Makassar di atas?
(Lazimnya diucapkan seseorang untuk mempertegas dan mempertahankan derajat status sosialnya dalam masyarakat sebagai bangsawan atau keturunan raja)
Secara bebas ungkapan tersebut dapat diartikan dan dimaksudkan:
"Kita memang keluarga tapi tidak sama"
(Meskipun masih satu keluarga tetapi berbeda derajat sosialnya dengan keluarga lainnya karena merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi secara sistem kekerabatan)
Dalam struktur masyarakat adat dikenal ada 3 (tiga) macam sistem kekerabatan, yaitu:
- Sistem Kekerabatan Parental;
- Sistem Kekerabatan Patrilineal; dan
- Sistem Kekerabatan Matrilineal.
Sistem Kekerabatan Patrilineal merupakan suatu adat masyarakat yang mengatur alur (garis) keturunan berasal dari pihak laki-laki (ayah).
Sistem Kekerabatan Matrilineal merupakan suatu adat masyarakat yang mengatur alur (garis) keturunan berasal dari pihak perempuan (ibu).
Bagi masyarakat Makassar, khususnya di Jeneponto umumnya menganut Sistem Kekerabatan Patrilineal, sehingga status bangsawan dari orang tua (pihak ayah) hanya dapat dilanjutkan oleh pihak anak laki-laki, sedangkan pada pihak anak perempuan terhenti pada diri pribadinya. Jadi meskipun seorang perempuan dari keturunan bangsawan bersuami dengan laki-laki dari rakyat biasa, maka anak dan keturunannya tidak menjadi bangsawan lagi melainkan sebagai rakyat biasa mengikuti garis keturunan ayahnya yang dari rakyat biasa.
Maka tidak heran jika kita kadang masih mendengar ungkapan orang tua dulu, "Memang Sibijaki Mingka Tena Kisingkamma".
Konon katanya biasanya diungkapkan pihak cucu keturunan bangsawan (raja) dari pihak anak laki-laki kepada cucu keturunan bangsawan (raja) dari pihak anak perempuan yang menikah/bersuami dengan laki-laki dari rakyat biasa. Padahal kedua cucu tersebut masih berasal dari kakek yang sama (raja) tetapi kedua cucu tersebut harus berbeda status sosialnya karena hanya persoalan adat yang berlaku dalam sistem kekerabatan Patrilineal.
Dalam hubungan kekerabatan, kita perlu menjaga dan melestarikan adat budaya tapi syariat Islam tetap menjadi pedoman utama dalam menjaga kerukunan keluarga. Semoga ungkapan "Memang Sibijaki Mingka Tena Kisingkamma" tidak muncul lagi sebagai ungkapan yang "menyakitkan" bagi keluarga lainnya, apalagi zaman sudah jauh bergeser lebih modern, maka sistem dalam pemerintahan dan masyarakat pun harusnya jauh lebih humanis (manusiawi).
Dalam silsilah keluarga Nabi Muhammad SAW pun nasabnya (pertalian darah kekerabatan) masih terpelihara dari Nabi Muhammad SAW sampai ke Nabi Adam AS. Demikian pula keturunan Nabi Muhammad SAW sampai yang masih hidup saat ini, silsilah keluarganya terpelihara dan dicatat oleh organisasi khusus bernama Rabithah Alawiyah.
Maka merawat silaturahmi keluarga dan mencatat silsilah keluarga merupakan ikhtiar untuk menjaga derajat dan martabat keluarga dalam persatuan dan kesatuan yang utuh dan menyeluruh tanpa membeda bedakan antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Juga bukan bertujuan untuk membangga banggakan keluarga dan keturunan. Karena sesungguhnya kita semua adalah sama-sama manusia makhluk ciptaan Allah SWT. Sebagai manusia, kedudukan kita sama semua di hadapan Allah SWT dan yang membedakan hanya tingkat ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Lalu, bagaimana dengan ungkapan:
"MEMANG SIBIJAKI MINGKA TENA KISIALLE CERA"
Secara bebas ungkapan tersebut dapat diartikan dan dimaksudkan:
"Kita memang keluarga tapi tidak sedarah"
(Ada hubungan keluarga tetapi tidak sampai terjalin nasab pertalian darah dalam garis keturunan kekerabatan)
Contoh:
1. Saudara sambung (parenrengan siana)
2. Sepupu sambung (parenrengan sikali)
Jadi kalau ungkapan di atas memang wajar, karena misalnya saudara tiri meskipun tidak ada pertalian darah tapi tetap ada hubungan keluarga. Namun demikian, saudara tiri tidak masuk dalam struktur silsilah keluarga secara garis keturunan kekerabatan.
Semoga tulisan ini dapat dipahami dan bermanfaat. Mari kita rawat silaturahmi dan kerukunan keluarga tanpa membedakan dan menghakimi.

Komentar
Posting Komentar